buanglah sampah pada tempatnya…

” Buanglah sampah pada tempatnya ”

Lingkungan merupakan hal yang krusial untuk dijaga dan dilestarikan. Manusia tak akan bisa hidup tanpa adanya lingkungan yang bersih. Hal ini tentu berkonsekuensi logis pada pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Air, tanah, dan udara (kurang lengkap ya…belum ada apinya, hehe…emang avatar) merupakan contoh komponen lingkungan yang penting untuk dilestarikan. Komponen-komponen itu sangat menentukan kualitas hidup manusia, terutama air.

Sebagai contoh mudah, kasus munculnya kabut asap di beberapa daerah di Sumatera sangat bermasalah. Kendaraan harus memperlambat lajunya karena jarak pandang berkurang, pertanian terhambat karena cuaca menjadi tak tentu, penerbangan banyak yang mengalami delay, dan penumpangnya ngamuk-ngamuk karena kabut menganggu navigasi pesawat. In term of water, masalah yang sering muncul adalah pencemaran oleh sampah, ya yang organic atau yang tidak. Kasus ini terlihat sudah menjadi lazim di Indonesia, seperti sudah biasa dan tak ada upaya untuk menyelesaikannya.

Ketika terjadi pencemaran air, terutama yang di sungai-sungai, terutama di Ibukota, pemerintah daerah seringkali langsung mengerahkan traktor-traktor pengangkut sampah. Sampah-sampah dikeruk dan diangkuti keluar sungai. Banyak memang. Tapi yang menjadi masalah, mengapa dari zaman Mbah Soekarno sampai Pak SBY masalah pencemaran air tak ada habisnya. Tak di Jakarta, tak di Surabaya, dimana saja, tempat-tempat air termasuk sungai dan laut sudah tercemar. Entah itu oleh sampah plastik, sampah detergen, limbah pabrik, and many more.

Kalau dilihat dari solusi yang ditawarkan pemerintah sebenarnya tak ada yang salah. Tapi salahnya itu kejadian pencemaran terus berulang. “Udah tahu lobang disitu, ko’ bolak-balik masuk?”

Sebenarnya semua hal bisa ditangggulangi bila sumber masalah dibabat dulu. Masalah di negara sebenarnya kuatnya budaya buang sampah sembarangan. Hayu, paling kamu juga buang sampah sembarangan.

Saya sendiri kadang berpostulat bahwa budaya tradisional orang Indonesia belum hilang. Kalau dulu yang dibuang mungkin bungkus makanan yang terbuat hanya dari daun pisang, maka tidak akan mencemari lingkungan, kan itu bahan-bahan organik. Bahan itu akan larut dengan alam karena memang alami.

Sementara sekarang zaman sudah berganti, daun pisang sebagai bungkus makanan telah berganti dengan plastik yang sulit mengalami pelapukan. Apalagi bahan kimianya tak ramah lingkungan. Apalagi kalau sudah bersentuhan dengan air yang merupakan kebutuhan utama umat manusia.

Oleh karena iu, sangat penting untuk menumbuhkan budaya buang sampah pada tempatnya. Memang terlihat remeh. Tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, maka dampaknya pun juga besar. Kadang saya bingung bila menegur orang yang buang sampah sembarangan. Seringkali dia bilang “Ah, orang lain aja boleh, kenapa aku dilarang (buang sampah sembarangan)?”

“Hallooo, kalau harus nunggu yang lain kapan mulainya, Buu?”

Logika berpikir saya memang hanya sampai segitu. Tapi yang penting saya yakin bahwa buang sampah pada tempatnya itu benar dan berdampak baik bila dijalani apalagi dihayati.

http://sosbud.kompasiana.com/2009/12/27/yang-penting-buang-sampah-pada-tempatnya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: